sejarah paroki

Pada sekitar tahun empat puluhan, dari sebuah halaman rumah, di sisi barat sungai kecil pada sebidang tanah yang kini menjadi tempat berdirinya Panti Paroki Yohanes Maria Vianney, Romo Van Oers, MSC memandang ke sebuah pekarangan luas di sebelah barat dan berkata kepada Sukidjo seorang guru HIS,”Seandainya kita beli tanah itu untuk mendirikan sebuah gereja kira-kira boleh tidak?” Sukidjo tidak berani memastikan. Tanah itu milik keluarga dr. Ismangoen, seorang dokter jawa yang terpandang dan berada.


Benih-benih Sebuah Paroki

Riwayat Paroki Kebumen bermula ketika sejumlah orang Katolik berkebangsaan Belanda mulai berdiam di wilayah Kebumen dan secara teratur mereka merayakan ekaristi dengan mengundang pastor dari Purworejo.
Beberapa waktu kemudian mulai berdatangan guru-guru Katolik dari Muntilan dan Yogyakarta lulusan sekolah keguruan Romo Van Lith, SJ Muntilan. Mereka bekerja di Kebumen dan aktif mewartakan Injil kepada penduduk sekitar.
Buah dari pewartaan inilah yang memulai terbentuknya komunitas umat Katolik di beberapa tempat, seperti di Bumiharjo, Petanahan dan Puring. Komunitas ini melahirkan pula seorang bruder pribumi pertama di Indonesia dari Konggegrasi Karitas bernama Sawar.

Paroki Baru

Perkembangan umat Katolik di Kebumen menarik perhatian Dewan Perfektur Apostolik Purwokerto (DPAP). Pada tanggal 21 Februari 1938, sebuah sidang DPAP memutuskan unutk menempatkan seorang pastor di Kebumen yaitu Romo J. van Rooyen, MSC. Dengan demikian umat Katolik di Kebumen tidak lagi dilayani oleh pastor-pastor dari Gombong, Kutoarjo dan Purworejo, walaupun belum memiliki tempat ibadat yang permanen.
November 1938, Romo van Rooyen sakit dan terpaksa harus pulang ke Belanda. Sambil menunggu pastor pengganti, Gereja Katolik di Kebumen dilayani oleh pastor dari Kutoarjo.

Kebumen mendapat gembala lagi pada bulan April 1939 yaitu Romo A. Belderok, MSC seorang pastor ke dua di Gombong dengan tugas khusus melayani umat Katolik di Kebumen. Sampai dengan dimulainya masa penjajahan Jepang tercatat sejumlah pastor pernah melayani umat Katolik di Kebumen yaitu Rm. van Bilen, Rm. Manasse, Rm. van Oer, Rm. Th. Kouw, Rm. Brouwers dan Rm. Mockelkoorn.

Pada masa Rm. Van Oers (1941) disewalah sebuah rumah di sebelah timur lahan yang sekarang menjadi tempat berdirinya panti paroki. Rumah itu milik Haji Abu Ngamar, juragan Genteng Sokka, yang pada waktu meninggal dimakamkan di pemakaman keluarga tidak jauh dari Makam Katolik di Gunung Pogog. (Dari penelusuran, rumah tersebut terletak di sebelah timur Kantor Bea Cukai, salah satu rumah di antara dua rumah kuno yang ada). Selain untuk tempat tinggal romo, rumah ini juga digunakan sebagai tempat beribadat.

Masa Penjajahan Jepang

Kedatangan Jepang di Indonesia pada awal tahun 1940-an menjadi malapetaka. Seluruh misionaris asing yang bekerja di Indonesia ditangkap dan dipenjarakan. Di Kebumen mereka menangkap Rm. Brouwers dan Rm. Mockelkoorn, sehingga kembali terjadi kekosongan pastor. Umat Katolik Kebumen kembali dilayani pastor-pastor pribumi dari Purworejo yaitu Rm. IM. Harjadi, Pr yang kemudian diteruskan oleh Rm. Th. Padmowidjojo, MSC.

Almarhum Andreas Marhadi pernah memberikan kesaksian seputar tahun-tahun itu, saat ia tinggal di Gang Kendeng, Prumpung bersama Sukidjo, orang tuanya. Waktu itu ia berumur 10 tahun, setelah Jepang masuk, beberapa perlengkapan ibadat yang tersisa disimpan di rumahnya. Di situlah peribadatan sering dilaksanakan, dipimpin bergantian oleh Rm. S. Danoe Widjojo, Pr dan Rm. Th. Padmowidjojo, MSC. Namun reksa pastoral sehari-hari praktis hanya dijalankan oleh para katekis.

Karya Pendidikan

Awal tahun 1950-an keadaan mulai tenang kembali. Tahun 1951, Rm. A. Wahyo Bawono, Pr ditempatkan sebagai pastor di Kebumen. Tahun 1952 para misionaris asing dilepaskan dari tahanan Jepang. Salah satunya Rm. Van de Pass, MSC dan ditugaskan di Kebumen. Beliau menjajaki kemungkinan pengembangan karya di bidang pendidikan.

Pada bulan Agustus 1953 beliau mendirikan Taman Kanak-Kanak, dengan murid pertama tercatat 10 orang dan untuk sementara kegiatan belajar dilakukan di ruang tamu Losmen Murni di Jl. Pemuda. Sekarang kira-kira disebelah utara Toko Sumber manis berseberangan dengan Toko Eko Agung. Selain itu Rm. Van de Pass juga membeli sebidang tanah dan membangun gedung di dekat Sungai Luk Ulo yang kini menjadi lokasi TK dan SLTP Pius Bakti Utama.

Sebelum seluruh gagasannya terwujud, pada akhir tahun 1953 beliau diganti Rm. K.J. Veegers, MSC. Tanggal 1 Agustus 1954 berdirilah Sekolah Rakyat (SR) Bakti Mulia di lokasi yang sama. Sejak itu peribadatan dilakukan di gedung sekolah ini.

Pada tahun 1955 Rm. de Vette, Pr datang sebagai pengganti dan sebuah pasturan dibangun menjadi satu dengan gedung TK Pius Bakti Utama. Di bangunan yang sekarang dipergunakan sebagai gedung TK Pius inilah beliau bertempat tinggal, sehingga ekaristi biasa dirayakan secara rutin setiap minggunya.

Tahun 1967, beliau digantikan Rm. Bertazzi, MSC dan pada masa romo inilah gedung gereja dibangun, ditempat yang “dikrasani“ Rm. Van Oers. Pembangunan dimulai tahun 1968 ditandai peletakan batu pertama oleh Mgr. W. Schoemaker, MSC Uskup Purwokerto saat itu. Bangunan gereja itu diberi nama Gereja Gembala Yang Baik.

Saat ini paroki Kebumen dikelompokkan dalam lingkungan dan stasi yaitu:

  1. Lingkungan I (Santo Yosep) yang terbagi dalam 3 kelompok basis
  2. Lingkungan II (Santa Maria)
  3. Lingkungan III (Santa Veronika)
  4. Lingkungan IV (Santa Caecilia) yang terbagi dalam 3 kelompok basis
  5. Lingkungan V (Santa Yohanes)
  6. Stasi Kutowinangun yang terbagi dalam 3 kelompok basis
  7. Stasi Puring-Petanahan, dan
  8. Stasi Sidoharjo-Bumiharjo

Nama Paroki

Dipakainya nama Gembala Yang Baik, dikemudian hari ternyata menimbulkan kebingungan karena sebelumnya tercatat bahwa nama paroki di Kebumen adalah St. Yohanes Maria Vianney, bahkan sebelumnya sempat tercatat nama St Yohanes Pemandi. Sayang sekali buku sejarah paroki yang disusun oleh Seksi Sejarah Keuskupan Purwokerto pada tahun 1993 tidak menyebutkan alasan pergantian nama tersebut. Kemungkinan Yohanes Pemandi untuk menyebut Yohanes Maria Vianney karena dalam sumber tertentu, orang suci dari Ars ini tercatat bernama lengkap Jean Baptiste Marie Vianney. Yang pasti, nama paroki Kebumen, seperti tercatat dalam Petunjuk Gereja Katolik Indonesia adalah Santo Yohanes Maria Vianney.

Tulisan “Gembala Yang Baik” dalam prasasti gedung gereja barangkali menjadi sebab nama ini menjadi akrab sebagai nama paroki. Banyak pihak dibuat bingung, demikian pula dengan pihak Keuskupan Purwokerto dan Konferensi Waligereja Indonesia.

Setelah memperhatikan dan mempertimbangkan banyak hal, pada tanggal 18 April 2004 Romo Paroki bersama Dewan Paroki menetapkan bahwa nama paroki di Kebumen adalah Paroki Santo Yohanes Maria Vianney.

dikutip dengan perbaikan seperlunya dari Buletin Waskita No.5/Agt-Sept 2002 dan Vademekum 8 Agt 2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: