Mampir Ngombe (Naskah Mimbar Agama Katolik)

Tokoh: Pak Osler (POS) – agak temperamen, ceplas-ceplos.

Pak Joko (PJK) – ngeyelan, kemaki, sok percaya diri, sok tau, orang

katolik yang lancar rejekinya tapi males ke gereja.

Pak Mardi (HY) – katekis, mandan pinter tapi agak cengengesan.

Pak Dar (PDD) – sabar, sareh, ning mentok.

Pak Tujwadi (TWD) – agak ngrekoso meski rajin ke gereja, mr. complain.

Adegan I – (di beranda Rumahnya PDD lagi asyik mengamat-amati udang-udang piaraannya sambil bersenandung. Kemudian datang POS)

POS: Wah, panen ini, Pakde!

PDD: Eh, Bang. Ini …lagi ngecek-ngecek saja kok. Kemarin kan aku tinggal 2 hari ke Jogja. E, ya dilihat-lihat mbok-mbok ada yang nggak beres.

POS: Tapi kan sudah hasil to? (Sambil mengamati kolam)

PDD: Yah, berkat Tuhan. Lumayanlah buat tambah-tambah beli bensin…. Gimana bang, ada perlu sama aku apa?

POS: Biasalah Pakde, mampir sebentar. Siapa tau ada kopi..hehehe..

PDD: o,…Ya ayo, kita ngopi di situ.

(Berdua berjalan menuju kursi di teras, menikmati kopi panas)

POS: (setelah nyruput) Pakde… omong-omong aja ini ya… Saya kok agak prihatin ya…

PDD: Prihatin? Prihatin apa Bang?

POS: Begini lho pakde. Sebagai sekretaris di gereja, saya ini kan bisa lihat catatan di komputer, berapa jumlah umat kita. Lumayan banyak, lho.

PDD: He em, lalu?

POS: Dari sekian banyak itu, kalau saya lihat ya, mungkin hanya separoh yang pergi ke gereja sabtu sore plus minggu pagi. Lha separohnya lagi kemana, gitu lho!

PDD: (sambil manggut-manggut) Aku sih nggak pernah ngitung, bang. Tapi ya memang memprihatinkan kalau memang begitu. Orang katolik, kok alergi ke gereja.

POS: Termasuk teman lama kita, si Jek.

PDD: Si Joko?

POS: Lha iya, si Jek, Joko. Padahal dulu ya rajin lho dia.

PDD: (sambil mesem-mesem) Joko….iya, ya. Memang kayaknya aku jarang sekali lihat dia di gereja.

POS: Itulah….

(mobil Pak joko melintas pelan melewati rumah Pakde Dar).

PDD: (sambil menunjuk) Lha itu, Joko!

POS: Hoi, Jek!

(PJK menghentikan mobilnya. Masih tetapi di belakang kemudi)

PJK: (sambil melambaikan tangan ) Hallo!

PDD: Mampir dulu. Minum. Ngopi!

(PJK males-males keluar dari mobil, jalan ke tempat POS dan PDD duduk)

POS: Panjang umur itu orang…..

(PJK datang, salam-salaman)

POS: Wah, keliatan tambah makmur, teman kita yang satu ini. (nepuk-nepuk lengan PJK)

PJK: Biasa…lah.

PDD: Dari mana mau ke mana? Kelihatannya kok sibuk terus, sampai kita nggak pernah lihat, ya.

POS: (manggut-manggut) He he he…

PJK: Namanya orang bisnis kan memang begitu to, De. Ke sana, ke sini, mburu setoranlah. Ya maklum saja kalau nggak sempat ketemu sama situ berdua. Yang namanya waktu itu jan…mepet pet! Serba nggak sempat!

PDD: Ya tapi kalau cuma medang sebentar, ngombe kopi sebentar, kan sempat to…. Enak lho kopinya.

PJK: Lha itu, De!

POS: Lha itu apanya?

PJK: Urip iki mung mampir ngombe, ya kan? Hidup itu Cuma mampir minum. Cuma sebentar. Lha yang sebentar ini kan harus kita pakai sebaik-baiknya. Buat cari uang. Biar cepat bisa beli rumah, kendaraan, keperluan rumah tangga, kebutuhan anak istri.

PDD: Aku sih nggak maido. Cari uang itu memang penting. Tapi apa ya kamu nggak pernah istirahat, mampir ngombe. Bisa mati ngelak, lho!

PJK: Ibaratnya, De, saya ini nggak punya waktu buat nyruput!

POS: Sampai nggak punya waktu buat ke gereja juga ya, Jek? He he maaf lho ini.

PDD: (agak kaget dengan kalimat POS) huss…sssttt (telunjuk menutup mulut)

PJK: (agak tersinggung) Ya jangan begitu, Bang. Meskipun belakangan ini saya selalu absen ikut misa di gereja, saya masih Katolik, lho! Setiap minggu saya itu mesti titip uang kolekte sama anak saya. Banyak, lho. Bisa jadi lebih banyak dari kolekte situ. Belum lagi yang namanya darma bakti. Ratusan ribu tiap bulan, De!

PDD: Percaya…

PJK: Lagian, buat apa lagi sih saya ke gereja? Nggak usah sembayang saja, bisnis saya sudah lancar. Hidup sudah kecukupan. De Dar sama Bang Os bisa lihat kondisi ekonomi saya, kan. Buat apa lagi?

POS: Tapi rejekimu itu Tuhan yang kasih, kan… Ya harus bersyukur, gitu lho!

PJK: Bang, duit itu nggak punya agama. Kalau kita kerja, ya ada uang. Kalau waktu kita habis buat ke gereja thok, dari mana duit bakal datang?

POS: Ikut misa di gereja kan nggak sampai dua jam, Jek.

PJK: Sulit, Bang. Sabtu sore itu saya masih harus kontrol kerjaan pegawai saya. Minggu pagi acara saya main tenis. Bukan perkara olahraganya, lho, tapi buat memupuk relasi bisnis. Itu kan penting sekali. Dan yang jelas, saya kan tetap memenuhi kewajiban saya, nyumbang uang kolekte dan darma bakti.

POS: Tapi, Jek….

PDD: (menengahi) Kopinya diminum dulu, selak adem….

(Semua nyruput kopi)

PDD: Menurutku gini, Jok…. cari duit itu hakmu. Malah itu kewajibanmu karena kamu punya anak-istri. Tapi ke gereja juga nggak kalah penting. Cuma aku nggak bisa ngomong banyak masalah ini. (diam sebentar). Gini, sebentar lagi aku mau ke rumah Pak Mardi. Kamu sekalian ikut apa? Kita tanya-tanyalah masalah ini. Dia kan lebih mumpuni.

PJK: Saya repot, De.

PDD: Sekali ini saja, Jok. Buat nglegakke obrolan kita ini tadi. Habis itu ya terserah kamu.

POS: setuju, pakde. Ayo, Jek. Eh, saya boleh ikut kan, Pakde?

PDD: He em. Gimana, Jok. Sekali ini saja, thok!

PJK: (setelah mikir-mikir) Ya, wis. Yo!

POS: Pakai mobilmu ya, Jek. Sekalian ngerasain mobilnya bos.

PDD: Aku pamit orang rumah dulu…

(PDD pamit. POS & PJK jalan menuju mobil, masuk, diikuti PDD)

Adegan 2 ( Di rumah Pak Mardi – sedang duduk ngobrol HY dan TWJ)

TWJ: Lha ya itu to Pak. Saya ini nggak habis pikir.

HY: Jangan… jangan sampai kehabisan pikiran. Repot nanti…

TWJ: Sampeyan ini… saya ini lagi mumet, lho!

HY: O iya to. Gimana-gimana…

TWJ: Gini, lho. Rasa-rasanya saya ini ya nggak pernah absen ke gereja. Nek perlu dobel sabtu-minggu. Sembayang lainnya ya lumayan rajin. Novena ya nggak lupa. Doa rosario bersama ya ayo. Tugas misa ya nggak lupa. Tapi keadaan saya kok ya, boleh dibilang kurang menggembirakan, begitu.

HY: Contohnya, Pak?

TWJ: Dari dulu ekonomi saya ya pas-pasan saja. Maju tidak, mundur sok-sok. Anak yang satu, kuliahnya nggak rampung-rampung. Yang satu lagi langganan sakit. Sudah gitu, ndilalah punya istri kok ya hobi ngomel, apalagi kalau pas tanggal tua.

HY: Terus njenengan protes, apa gunanya sembayang, apa gunanya beribadat ke gereja? Gitu?

TWJ: Persis.

HY: (mesem) Pak Jadi, saya mau tanya, kalau njenengan ke gereja itu yang didoakan apa, to?

TWJ: Ya minta diparingi rejeki, gamblangnya ya duit.

HY: Ha ya salah….

TWJ: Salahnya… (badan condong ke depan)

HY: Lha Gusti Allah itu bukan kasir, je.

TWJ: Berdoa mohon anak lulus kuliahnya, juga salah?

HY: Lha memangnya Tuhan Allah itu yang punya universitas?

TWJ: Lha kalau anak sakit-sakitan bagaimana? Apa ya nggak boleh berdoa?

HY: Siapa yang melarang berdoa. Saya nggak melarang, lho. Tapi menurut saya, kalau sakit-sakitan ya dibawa ke dokter to, dicarikan obatnya….

TWJ: Sampeyan ini aneh, Pak. Malah bikin saya tambah mumet.

HY: Wah….

(Muncul Pakde Dar, Pak Osler dan pak Joko)

Ke-3nya: Kulanuwun, Permisi

HY: Wah,….rombongan…mari-mari……silakan

(salaman, semuanya duduk)

POS: Lagi asik nih, Pak. Kita ngeganggu enggak ini..

HY: O, enggak. Saya sama Pak jadi cuma lagi mumet-mumetan kok ini. Ya to Pak?

TWJ: Hiya…baru ngobrol-ngobrol biasa saja kok

HY: Sebentar, saya memang kangsen mau ketemu sama Pak Dar. Mau ngobrol soal udang. Lha ini Bang Os sama Pak Joko mau ikut ngobrol soal udang juga, apa?

POS: Bukan, Pak. Kebetulan tadi kita bertiga ketemu di rumah Pakde Dar. Sambil ngopi kita ngobrol tentang gereja, terus mentok. Makanya kita kesini minta penerangan….

HY: Penerangan? Lha saya bukan PLN itu?

TWJ: Lho, lak guyon lagi to…

HY: Lagipula, gereja kan nggak cuma sekedar diomongin, to. Tapi juga harus didatangi….

POS: Itulah, Pak Mardi! Topik obrolan yang mentok itu ya masalah apa sih pentingnya ke gereja?

HY: O…begitu.

PDD: Aku sama Bang Os ini menganggap ke gereja, beribadat, itu penting. Sementara Si Joko ini menganggap tidak penting. Aku mau njelaskan, nggak bisa. Nah, sekarang tolong jelaskan, gitu….

HY: (sambil prengas-prenges) Lha kok nggak penting, Pak Joko?

PJK: Lha wong tanpa ke gereja saja hidup saya sudah enak, duit banyak, banyak keinginan bisa keturutan. Buat apa ke gereja?

HY: Weee, lha ini kebalikan sama Pak Jadi. Kalo Pak Jadi, rajin ke gereja tapi hidupnya marbun…marai bunek.

POS: Lha terus gimana ini…

PJK: haha…gimana hayo…

TWJ: Tambah mumeti ini

PDD: Sudah…sekarang kita dengarkan

(HY menyenderkan badan ke kursi, melihat langit-langit)

HY: Sebenarnya, dalam ekaristi, ibadat di gereja itu, yang terjadi apa to?

POS: kita mendengarkan kitab suci sabda Tuhan, mengumpulkan persembahan kolekte, komuni, terus pulang.

HY: Tidak salah… . tapi yang saya tanyakan adalah peristiwa apa to itu sebenarnya?

PDD: Kita bertemu Gusti Allah.

HY: Betul. Yang terjadi adalah Tuhan Allah mengundang kita untuk bersahabat dengan Dia. Tuhan memberikan jaminan berkat dan penyertaanNya dalam hidup kita.

PJK: Kapan itu?

HY: Lha tubuh dan darah Kristus dalam wujud roti dan anggur itu, yang kita sambut sebagai komuni suci itu…. Kan dikatakan inilah tubuhku inilah darahku… lalu kita santap. Masuk tubuh kita. Tinggal dalam tubuh kita. Artinya lalu Tuhan sungguh-sungguh bersama kita.

TWJ: Lalu persembahan kita, termasuk uang kolekte itu, apa to maksudnya, Pak?

HY: Njenengan tahu artinya kurban

TWJ: Hmmm, mau, rela, iklas memberi, menyerahkan…apa lagi ya…

HY: Dan seterusnya…ya to? Nah, Tuhan kita mau, rela, iklas memberikan, menyerahkan diriNya sendiri untuk hidup kita. Lalu kita menyerahkan, mempersembahkan uang kita, itu pun bukan seluruhnya to, hanya sebagian keciiill sekali to. Bukan wujud atau jumlah uang itu yang terpenting. Jauh lebih penting adalah kita membawa, mempersembahkan hidup kita, dalam segala situasi, untung dan malang, suka dan duka. Persembahan kita disatukan dengan kurban Tuhan.

PDD: Jadi kita lalu betul-betul bersatu, disertai Tuhan, begitu?

HY: Tul.

TWJ: Berarti kita ini mengundang Tuhan untuk terlibat dalam hidup kita sehari-hari. Begitu?

HY: Tul.

POS: Dalam susah dalam senang? Di Kantor, di rumah, di sawah, di tempat usaha? Waktu sakit atau waktu kita bokek?

HY: Tul, tul, tul… Tapi ya itu tadi Pak Jadi, masalah uang seret, sakit encok, rematik, keseleo, nilai ulangan jelek, nggak lulus-lulus itu perkara dunia. Jangan memaksa Tuhan jadi dokter, dukun urut, kasir, atau dosen. Tetap saja kita yang harus menangani hal-hal itu.

TWJ: Lalu dimana letak penyertaan Tuhan?

HY: Yang jelas bukan di sini atau di sini (ambil pegang hidung, tengkuk atau yang lain). Penyertaan Tuhan berarti kita tetap punya pengharapan dalam hidup. Penyertaan Tuhan berarti kehendak Tuhanlah yang menjadi inspirasi, pedoman, kekuatan, landasan, dasar dan tujuan dari apa yang kita rencanakan, kita lakukan, kita putuskan dalam hal apa saja. Termasuk mengatasi masalah-masalah sepetnya hidup.

PJK: Sebentar…. Saya jadi tertarik ini…

HY: Tertarik sama saya apa?

PJK: Edan apa! Ini, lho, masalahnya itu tanpa ke gereja pun, tanpa ikut ibadat pun, saya ini sudah merasa kecukupan, senang, bisa menikmati hidup….

POS: Ya, itu gimana, Pak?

HY: Pak Joko, saya senang njenengan mengalami rahmat itu. Ikut senang saya. Saya Cuma mau tanya beberapa hal: apa pak Joko sudah menggaji karyawannya dengan adil dan layak? Apa perhatian untuk anak-istri sudah cukup, bukan dalam hal materi lho. Misalnya menemani anak belajar? Mendengarkan pendapat pasangan?

PJK: Ya, kalau itu sih..

HY: Apa , nuwun sewu ini, bisnis Pak Joko bebas KKN, mendapatkan tender tanpa kolusi, tidak main manipulasi angka-angka dalam nota? Menggunakan pelicin untuk memperlancar bisnis?

PJK: Kalau masalah itu….

HY: Biasanya ini, nuwun sewu ya, kalau sudah sukses bisnisnya sok mlirak-mlirik, main telpon dan sms sama perempuan cantik. Apa ini juga terjadi?

PJK: kalau itu….

HY: Itu semua Cuma sekedar pertanyaan lho, Pak. Termasuk apa Pak Joko juga menyempatkan kerja atau layat tetangga yang meninggal? Sekali lagi ini sekedar pertanyaan yang bisa dijawab sendiri, lho.

PJK: Ya, saya tahu itu…tapi apa hubungannya itu semua dengan ikur misa di gereja, apa hubungannya dengan beribadat?

PDD: Ya itu tadi, Jok. Kita mempersilakan Gustii Allah terlibat dalam hidup kita, jadi kita disertai. Kalau disertai, kita bisa berharap bahwa langkah kita bisa selaras dengan langkahNya. Karena yang kita jadikan dasar dan tujuan, inspirasi atau ilham untuk bertindak adalah Gusti Allah sendiri.

POS: Misalnya, kalau Tuhan itu menjadi inspirasi kita, maka kita nggak akan sabet perawan sana sabet perawan sini karena kita sudah punya istri. Atau nggaji karyawan ya yang wajar, tidak memeras.

TWJ: Atau nggak bakal mengambil langkah korupsi kalau mau menambah penghasilan.

HY: We…lha pada tambah pinter ini….

(semua tertawa)

PJK: satu pertanyaan lagi, pak Mardi….

HY: Wah belum puas, puas, puas ini. Apa, Pak Joko?

PJK: Beribadat, ke gereja seminggu sekali itu apa nggak keseringan to…

HY: Lha berani nawar berapa…?

(tertawa lagi)

POS: Kaya wong dagang, bae…

HY: Jujur saja, kita manusia ini kan lemah, to. Gampang tergoda, gampang lupa, kilaf. Sementara hidup ini terus bergulir dengan bermacam-macam masalah di depan mata kita to. Maka baik sekali kalau kita selalu menerima undangan bersahabat dari Tuhan Allah. Menyatukan suka-duka hidup kita dengan kurban Allah. Mengundang Tuhan Allah menyertai hidup kita. Terus, dan terus begitu.

PDD: Ibarat kata, urip kuwi kudu mampir ngombe. Hidup itu harus disempatkan berhenti untuk minum. Minum dari sumber kehidupan. Supaya hidup rohani kita tidak kering, mati kehausan jadi balane setan. Kan Gitu.

HY: Yak, tul. Nah, kalau sudah jelas begitu, lalu kapan kita mau mulai hidup yang harus mampir ngombe itu?

(Semua manggut-manggut tercenung)

POS: Eh, masih satu pertanyaan lagi nih…

PJK: Apa lagi to Bang?

POS: Ini lho, kita sudah lama mampir di sini tapi kok belum ngombe juga ya…

Semua: hahahahaha…..

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: