JANDA-JANDA KATOLIK TELADANI KETEKUNAN SANTA MONIKA DALAM BERDOA

Janda-janda Katolik yang berkumpul pada sebuah perayaan Paskah dan perayaan menyambut peringatan 25 tahun paguyuban mereka menganggap Santa Monika sebagai pelindung dan teladan mereka dalam hal berdoa.

“Kami para janda berusaha mengikuti jejak Santa Monika untuk selalu berdoa. Kami mendoakan keluarga sendiri, anak kami, dan suami kami yang sudah meninggal. Kami juga mendoakan Gereja, paus, para uskup dan imam, serta negara dan bangsa kami,” kata Theresia Sri Supartini.

Koordinator Perhimpunan Warakawuri Katolik Santa Monika (PWK Santa Monika) Cabang Keuskupan Purwokerto itu berbicara kepada UCA News pada perayaan 15 April yang diselenggarakan di sebuah gedung milik pemerintah setempat.

Sekitar 250 janda, dari sembilan paroki anggota dan beberapa paroki bukan anggota, menghadiri perayaan itu bersama tujuh imam dan 10 biarawati. Keuskupan Purwokerto memiliki 21 paroki.

PWK Santa Monika, yang didirikan di Jakarta pada 12 Juni 1982, memiliki lebih dari 10.000 anggota di 20 dari 36 keuskupan di tanah air, demikian menurut Angela Maria Rena Karim, ketua sekaligus pendiri PWK Santa Monika. Peringatan 25 tahun PWK Santa Monika akan secara resmi diadakan di Jakarta pada 17 Juni.

Supartini juga mendorong anak-anaknya untuk berdoa.

“Ketika anak-anak masih kecil, saya mengajak mereka berdoa rosario secara bersama setiap malam. Anak-anak berbagi tugas sendiri. Ada yang mendoakan ayah mereka yang sudah meninggal, ada yang mendoakan saya, ada yang mendoakan keluarga, dan ada juga yang menyampaikan doa malam. Anak saya yang masih TK waktu itu berdoa singkat: Tuhan, berkati keluarga kami. Amin,” kenangnya.

Pensiunan guru berusia 67 tahun itu, yang suaminya meninggal tahun 1973, mengakui bahwa sebagai orangtua tunggal ia menghadapi banyak kesulitan dalam membesarkan keenam anaknya seorang diri, “tapi saya berserah dan memohon bimbingan Tuhan,” dan sekarang mereka semua telah menikah dan memberi dia tujuh cucu.

Menjanda itu kehendak Tuhan, katanya. “Tuhan memberi kepercayaan kepada saya untuk mendidik dan membesarkan anak-anak,” lanjutnya.

Seorang janda lain, Bernadet Endang Ristawati, 59, mengaku bahwa ia juga meneladani ketekunan Santa Monika dalam berdoa karena “doa memiliki kekuatan.”

Setahun setelah kematian suaminya pada Januari 2003, kenangnya, ia menjalani operasi kanker payudara di Yogyakarta. “Saya berdoa agar bisa menjalani pengobatan hingga tuntas. Tapi kenyataannya, setelah operasi saya membutuhkan banyak uang untuk menjalani kemoterapi dan penyinaran di Yogyakarta,” katanya kepada UCA News.

Berkat novena tiga Salam Maria, lanjut guru di sebuah sekolah menengah pertama itu, “Tuhan memberi jalan.” Ketua PWK Santa Monika Paroki Katedral Kristus Raja di Purwokerto itu menambahkan, “Saya mendapat hadiah sepeda motor dari bank. Saya menjual sepeda motor itu untuk menambah biaya pengobatan.”

Maria Magdalena Sumartini, 61, mengatakan kepada UCA News bahwa setelah kematian suaminya ia merasa tidak berguna dan tinggal seorang diri, sementara ketiga anaknya tinggal di Yogyakarta dan Jakarta.

“Sesudah bergabung dengan PWK Santa Monika, semangat hidup saya bangkit kembali,” kata Sumartini. Lewat doa dan paguyuban, katanya, ia menyadari bahwa Allah mencintai dia dan banyak orang membutuhkan dia, termasuk anak-anak dan cucu-cucunya.

Perayaan dimulai dengan ibadah yang dipimpin oleh Pastor Ambrosius Adiwardaya, pendamping PWK Santa Monika Cabang Keuskupan Purwokerto. Seusai ibadah, paroki-paroki anggota menampilkan pantomim, tarian, dan drama. “Kami mengadakan acara seperti ini untuk menunjukkan bahwa Gereja tidak mau melupakan mereka,” katanya kepada UCA News.

Sebuah kelompok tari beranggotakan 30 orang dan sejumlah musisi menampilkan sendratari yang diciptakan oleh Franciska Untariningsih.

Menurut Untariningsih, tari itu mengisahkan ketekunan Santa Monika dalam hal berdoa, yang seharusnya diteladani oleh para ibu. “Ia seorang pendoa. Ia berdoa tanpa mengenal waktu. Tuhan akhirnya mengabulkan permohonannya,” kata koreografer itu.

Dalam sebuah buku kenangan yang diterbitkan untuk perayaan itu, Uskup Julianus Sunarka SJ menulis: “Kerohanian PWK Santa Monika bersumber dari kehidupan Yesus Kristus yang lalu diterjemahkan dalam hidup sehari-hari Santa Monika. Masalahnya, bagaimana kerohanian dasar itu merasuki hidup sehari-hari para warakawuri.”

Santa Monika, yang hidup pada abad keempat, adalah santa pelindung para ibu, istri, dan janda. Diyakini bahwa ibu St. Agustinus dari Hippo itu berdoa terus-menerus agar suaminya masuk Katolik, yang akhirnya menjadi Katolik saat kematiannya. Ia juga mendorong anaknya untuk masuk Katolik setelah melewati suatu kehidupan yang liar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: