Bantingan

Sing Cino Sing Jowo manuk-e dowo!

Semboyan klasik De Britto yang mengagungkan kesetaraan dan persaudaraan dalam perbedaan itu kembali terdengar sangat keras, berkali-kali, dilantangkan dengan serempak sambil gedruk-gedruk kaki, mengawali acara reuni SMA saya itu kira-kira seminggu yang lalu. Reuni itu sendiri berjudul “Manuk Pulang Kandang”.

Tulisan saya ini tidak mau membahas tentang permanukan, meskipun dua kata manuk sempat keluar pada kalimat saya di atas. Saya hanya ingin sekedar sharing, mengingat beberapa peristiwa terakhir yang saya alami serasa tersegarkan kembali, diberi roh lagi dalam acara yang edan-edanan itu.

Di meja pendaftaran saya mendaftarkan diri. Nama-alamat-tahun kelulusan. Di meja berikutnya saya mendapati sebuah kotak (jan wujud-e uelek tenan!). Di sisi depan kotak itu ada tulisan: Mbanting, Dab! (Dab=Mas). Ada kalimat lagi di bawahnya: Sejuta ora akeh, sewu ora sithik. Oh! Saya merasa terlempar ke tahun-tahun SMA saya yang penuh keemasan tapi nggak lucu (lanang kabeh!). bambang Wedhus, kawan saya pernah nyanyi begini (menirukan lagunya Paramitha Rusady): Nostalgia SMA kita, tidak lucu cowok semua….

Satu hal yang begitu membekas dari masa SMA saya adalah budaya bantingan. Ini bukan gulat bebas. Bantingan adalah cara kami bergotong-royong, melakukan subsidi, donasi, pemberian, kemurahan hati, berupa uang untuk membiayai suatu hal atau kegiatan; bisa acara piknik, pertandingan olah raga, layatan, mbesuk orang sakit, bikin jaket kelas, sekedar beli udut atau nyengsu bersama. Yang merasa punya duit ya bakal mbanting banyak. Yang lagi kere ya mbanting seadanya. Yang betul-betul kere-sonthe ndak boleh mbanting. Kalau mbanting malah dikeplak-i. “Kowe ra sah! Nggo ragat mangan wae! Nek melu mbanting malah mengko lara beri-beri!”

Begitulah kami menikmati budaya subsidiaritas dan sepenaggungan sejati. Roh kelompok basis. Paguyuban katresnan. Tidak ada rasa terpaksa. Semua iklas. Semua berdasarkan takaran masing-masing yang kurang lebih sama: sakjane aku bisa mbanting pira? Yang mbanting banyak biasanya kawan-kawan yang berdarah tionghoa. Kenapa? Umumnya mereka (istilah kami saat itu) cino sugih duwe toko. Yang Jowo juga ada yang bisa mbanting gedhe, meskipun nggak banyak karena kebanyakan Jowo ireng mlarat. Kalo ada Cino sugih duwe toko mbantingnya cuma sak nil, biasanya ada yang tanya: Bangkrut po kowe?. Atau pertanyaan seperti ini: Lak isih duwe toko to? Yang ditanya ya bisa ngeles: Isih luwih akeh timbang bantingan duitmu sing apeg! Atau kalau memang usaha orang tuanya lagi kocar-kacir malah bilang begini: Mbok pisan-pisan sing jowo nyumbang cino…..

Pernah kawan saya yang mbatak tidak dikirimi uang dari kampong selama 2 bulan. Selama 2 bulan itulah dia hidup dari uang bantingan, termasuk SPP-nya. Yang mbanting 20 kawan saya yang cino. Begitu bersyukurnya dia, begitu gembiranya kawan saya, sampai-sampai dia memproklamirkan nama panggilan baru: A Lian Bacin (batak cino). Nama aslinya Parulian Purba.

Yang dibanting bukan hanya uang. Barang juga bisa. Pernah kami bikin acara kumpul-kumpil tanpa panitia. Suguhan bawa dari rumah masing-masing. Ada yang bawa babi kecap, saksang B1 (yang ini mbatak punya), gula-kopi, es batu (punya pabrik es), kacang, tela, sate ayam (anaknya tukang sate), sampai rokok beberapa slop (ambil dari toko papah-nya). Turah-turah.

Pernah juga kami melawat ke Solo, jadi supporter tim basket sekolah. Bantingan uang buat sangu sudah. Tapi masalah kendaraan pengangkut ke Solo belum terpecahkan. Kawan saya anak juragan babi usul: nganggo trek-e papahku wae. Kawan saya yang lain, papahnya punya toko besi, meyodorkan satu trek-nya. Jadilah kami semua ke Solo naik trek penuh aroma babi dan bleduk semen hasil bantingan.

Kalau Anda tanya apakah ada yang terpaksa mbanting, saya tidak tahu pasti. Seingat saya sih wajah kawan-kawan saya selalu sumringah, excited, antusias, gembira. Bisa memberikan sesuatu untuk kelompoknya barangkali sebuah kegairahan besar yang tak terukur oleh materi.

Anehnya, budaya bantingan kami juga tidak melahirkan juragan-juragan baru. Yang mbanting banyak juga tidak lalu jadi bos, duduk enak-enak, berdiam diri . Yang mbanting sedikit atau malah nggak mbanting sama sekali juga tidak lalu jatuh asor jadi kuli. Semua tetap sepandan, se-level, satu kasta, sederajat-serangkulan.

Kalau ada layatan, yang mbanting banyak ya tetap mau nyunggi peti mati. Tidak duduk-duduk manis ngeyop. Yang nggak bisa mbanting ya tidak merasa wajib nyunggi peti sebagai sili, denda, penitensi karena tidak mbanting. Peti mati tetap diangkat bareng-bareng oleh yang mbanting banyak, sedikit ataupun yang tidak. Kan celaka kalau misalnya kami sekelas 40 orang-an, yang mbanting banyak ada 36 orang, yang mbanting sedikit atau tidak mbanting sama sekali cuma 4, lalu yang 4 ini ‘diganjar’ nyunggi peti karena bantingannya kalah gedhe. Wah, bisa-bisa mbanting peti nanti! Begitulah saya melihat peti mati pun bisa menjadi simbol kehidupan, tanda paguyuban yang hidup. Waktu itu.

Sungguh saya merindukan waktu-waktu itu.

Di Paroki Kebumen ini, kerinduan itu sesekali menemukan tombo-nya. Beberapa kali saya melihat semangat bantingan itu hidup di beberapa kegiatan, di beberapa kelompok basis. Kadangkala saya sampai jatuh haru. Bukan karena ke-De Britto-an saya. Tapi karena melihat umat Kebumen pun juga belajar menghidupi semangat paguyuban yang baik ini, semangat saling member, murah hati, subsidiaritas, rasa memiliki dan kesadaran bahwa ‘saya adalah milik’ Paroki ini.

Pengalaman Natal 2007 yang baru saja berlalu pun demikian. Kebetulan Bu Candra, Cik Lan Ing dan saya ditugasi untuk mengusahakan dana yang bisa dipakai untuk meringankan beban pembiayaan perayaan Natal Paroki yang mencapai 10-11 jutaan. Kami mengupayakan lewat ‘iklan’ ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru. Lumayan. Dana yang terkumpul mencapai 3 jutaan. Padahal tariff iklan sudah dinaikkan. Padahal disain iklan-nya juga begitu-begitu saja. Padahal iklan-iklan yang sangat komersial tidak kami terima.

Saya percaya bahwa tujuan utama para pemasang iklan itu adalah menyumbang. Kalau sekedar ucapan selamat toh bisa lewat SMS atau salaman sepulang Misa. Saya percaya itu semua adalah wujud budaya bantingan yang pelan-pelan kita hidupi. Saya percaya bahwa kemurahan hati semakin tumbuh di Paroki ini. Dan saya gembira untuk itu.

Hanya saja, sayangnya, budaya bantingan kita masih menyisakan pemisahan kasta. Masih ada juragan dan masih ada kuli. Yang mbanting banyak masih merasa berhak duduk manis jadi juragan. Otong-otong, angkut-angkut, kerja kasar masih menjadi porsi bagi yang mbantingnya sedikit atau tidak sama sekali. Tanya saja Pakde Dar. Ya kan, Pakde? Ah, semoga apa yang saya lihat salah…..

Di awal tahun yang baru ini saya mencoba berharap. Semoga budaya bantingan sungguh bisa dihidupi oleh semua umat Paroki ini. Dalam banyak hal. Perayaan-perayaan hari besar, layatan, kegiatan-kegiatan paroki, kolekte, darma bakti, gerakan orang tua asuh, dan banyak lagi. Semoga demikian.

Susilo Arie

(Jowo ireng duwe toko)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: