Hati Penuh Syukur: Sebuah Spiritualitas Ekaristi

Kerap kali orang bertanya-tanya, untuk apa mengikuti Perayaan Ekaristi setiap Minggu bahkan Ekaristi harian. Di balik pertanyaan itu, ada kerinduan untuk menangkap makna Ekaristi yang lebih mendalam agar motivasi merayakan Ekaristi makin meningkat, dan tidak sekedar rutinitas. Karena itulah, ringkasan buku Henry JM Nouwen “Hati Penuh Syukur”, disusun dalam bentuk presentasi untuk memudahkan orang memperdalam “makna Ekaristi”, terlebih “spiritualitas”-nya. Semoga makin banyak orang mengalami cinta Kristus dengan menyantap Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur. Pengalaman persatuan itulah yang menggerakan orang beriman untuk diutus menjadi saksi iman di tengah dunia. (Blasius Slamet Lasmundi Pr)

Mampir Ngombe (Naskah Mimbar Agama Katolik)

Tokoh: Pak Osler (POS) – agak temperamen, ceplas-ceplos.

Pak Joko (PJK) – ngeyelan, kemaki, sok percaya diri, sok tau, orang

katolik yang lancar rejekinya tapi males ke gereja.

Pak Mardi (HY) – katekis, mandan pinter tapi agak cengengesan.

Pak Dar (PDD) – sabar, sareh, ning mentok.

Pak Tujwadi (TWD) – agak ngrekoso meski rajin ke gereja, mr. complain.

Adegan I – (di beranda Rumahnya PDD lagi asyik mengamat-amati udang-udang piaraannya sambil bersenandung. Kemudian datang POS)

POS: Wah, panen ini, Pakde!

PDD: Eh, Bang. Ini …lagi ngecek-ngecek saja kok. Kemarin kan aku tinggal 2 hari ke Jogja. E, ya dilihat-lihat mbok-mbok ada yang nggak beres.

POS: Tapi kan sudah hasil to? (Sambil mengamati kolam)

PDD: Yah, berkat Tuhan. Lumayanlah buat tambah-tambah beli bensin…. Gimana bang, ada perlu sama aku apa?

POS: Biasalah Pakde, mampir sebentar. Siapa tau ada kopi..hehehe..

PDD: o,…Ya ayo, kita ngopi di situ.

(Berdua berjalan menuju kursi di teras, menikmati kopi panas)

POS: (setelah nyruput) Pakde… omong-omong aja ini ya… Saya kok agak prihatin ya…

PDD: Prihatin? Prihatin apa Bang?

POS: Begini lho pakde. Sebagai sekretaris di gereja, saya ini kan bisa lihat catatan di komputer, berapa jumlah umat kita. Lumayan banyak, lho.

PDD: He em, lalu?

POS: Dari sekian banyak itu, kalau saya lihat ya, mungkin hanya separoh yang pergi ke gereja sabtu sore plus minggu pagi. Lha separohnya lagi kemana, gitu lho!

PDD: (sambil manggut-manggut) Aku sih nggak pernah ngitung, bang. Tapi ya memang memprihatinkan kalau memang begitu. Orang katolik, kok alergi ke gereja.

POS: Termasuk teman lama kita, si Jek.

PDD: Si Joko?

POS: Lha iya, si Jek, Joko. Padahal dulu ya rajin lho dia.

PDD: (sambil mesem-mesem) Joko….iya, ya. Memang kayaknya aku jarang sekali lihat dia di gereja.

POS: Itulah….

(mobil Pak joko melintas pelan melewati rumah Pakde Dar).

PDD: (sambil menunjuk) Lha itu, Joko!

POS: Hoi, Jek!

(PJK menghentikan mobilnya. Masih tetapi di belakang kemudi)

PJK: (sambil melambaikan tangan ) Hallo!

PDD: Mampir dulu. Minum. Ngopi!

(PJK males-males keluar dari mobil, jalan ke tempat POS dan PDD duduk)

POS: Panjang umur itu orang…..

(PJK datang, salam-salaman)

POS: Wah, keliatan tambah makmur, teman kita yang satu ini. (nepuk-nepuk lengan PJK)

PJK: Biasa…lah.

PDD: Dari mana mau ke mana? Kelihatannya kok sibuk terus, sampai kita nggak pernah lihat, ya.

POS: (manggut-manggut) He he he…

PJK: Namanya orang bisnis kan memang begitu to, De. Ke sana, ke sini, mburu setoranlah. Ya maklum saja kalau nggak sempat ketemu sama situ berdua. Yang namanya waktu itu jan…mepet pet! Serba nggak sempat!

PDD: Ya tapi kalau cuma medang sebentar, ngombe kopi sebentar, kan sempat to…. Enak lho kopinya.

PJK: Lha itu, De!

POS: Lha itu apanya?

PJK: Urip iki mung mampir ngombe, ya kan? Hidup itu Cuma mampir minum. Cuma sebentar. Lha yang sebentar ini kan harus kita pakai sebaik-baiknya. Buat cari uang. Biar cepat bisa beli rumah, kendaraan, keperluan rumah tangga, kebutuhan anak istri.

PDD: Aku sih nggak maido. Cari uang itu memang penting. Tapi apa ya kamu nggak pernah istirahat, mampir ngombe. Bisa mati ngelak, lho!

PJK: Ibaratnya, De, saya ini nggak punya waktu buat nyruput!

POS: Sampai nggak punya waktu buat ke gereja juga ya, Jek? He he maaf lho ini.

PDD: (agak kaget dengan kalimat POS) huss…sssttt (telunjuk menutup mulut)

PJK: (agak tersinggung) Ya jangan begitu, Bang. Meskipun belakangan ini saya selalu absen ikut misa di gereja, saya masih Katolik, lho! Setiap minggu saya itu mesti titip uang kolekte sama anak saya. Banyak, lho. Bisa jadi lebih banyak dari kolekte situ. Belum lagi yang namanya darma bakti. Ratusan ribu tiap bulan, De!

PDD: Percaya…

PJK: Lagian, buat apa lagi sih saya ke gereja? Nggak usah sembayang saja, bisnis saya sudah lancar. Hidup sudah kecukupan. De Dar sama Bang Os bisa lihat kondisi ekonomi saya, kan. Buat apa lagi?

POS: Tapi rejekimu itu Tuhan yang kasih, kan… Ya harus bersyukur, gitu lho!

PJK: Bang, duit itu nggak punya agama. Kalau kita kerja, ya ada uang. Kalau waktu kita habis buat ke gereja thok, dari mana duit bakal datang?

POS: Ikut misa di gereja kan nggak sampai dua jam, Jek.

PJK: Sulit, Bang. Sabtu sore itu saya masih harus kontrol kerjaan pegawai saya. Minggu pagi acara saya main tenis. Bukan perkara olahraganya, lho, tapi buat memupuk relasi bisnis. Itu kan penting sekali. Dan yang jelas, saya kan tetap memenuhi kewajiban saya, nyumbang uang kolekte dan darma bakti.

POS: Tapi, Jek….

PDD: (menengahi) Kopinya diminum dulu, selak adem….

(Semua nyruput kopi)

PDD: Menurutku gini, Jok…. cari duit itu hakmu. Malah itu kewajibanmu karena kamu punya anak-istri. Tapi ke gereja juga nggak kalah penting. Cuma aku nggak bisa ngomong banyak masalah ini. (diam sebentar). Gini, sebentar lagi aku mau ke rumah Pak Mardi. Kamu sekalian ikut apa? Kita tanya-tanyalah masalah ini. Dia kan lebih mumpuni.

PJK: Saya repot, De.

PDD: Sekali ini saja, Jok. Buat nglegakke obrolan kita ini tadi. Habis itu ya terserah kamu.

POS: setuju, pakde. Ayo, Jek. Eh, saya boleh ikut kan, Pakde?

PDD: He em. Gimana, Jok. Sekali ini saja, thok!

PJK: (setelah mikir-mikir) Ya, wis. Yo!

POS: Pakai mobilmu ya, Jek. Sekalian ngerasain mobilnya bos.

PDD: Aku pamit orang rumah dulu…

(PDD pamit. POS & PJK jalan menuju mobil, masuk, diikuti PDD)

Adegan 2 ( Di rumah Pak Mardi – sedang duduk ngobrol HY dan TWJ)

TWJ: Lha ya itu to Pak. Saya ini nggak habis pikir.

HY: Jangan… jangan sampai kehabisan pikiran. Repot nanti…

TWJ: Sampeyan ini… saya ini lagi mumet, lho!

HY: O iya to. Gimana-gimana…

TWJ: Gini, lho. Rasa-rasanya saya ini ya nggak pernah absen ke gereja. Nek perlu dobel sabtu-minggu. Sembayang lainnya ya lumayan rajin. Novena ya nggak lupa. Doa rosario bersama ya ayo. Tugas misa ya nggak lupa. Tapi keadaan saya kok ya, boleh dibilang kurang menggembirakan, begitu.

HY: Contohnya, Pak?

TWJ: Dari dulu ekonomi saya ya pas-pasan saja. Maju tidak, mundur sok-sok. Anak yang satu, kuliahnya nggak rampung-rampung. Yang satu lagi langganan sakit. Sudah gitu, ndilalah punya istri kok ya hobi ngomel, apalagi kalau pas tanggal tua.

HY: Terus njenengan protes, apa gunanya sembayang, apa gunanya beribadat ke gereja? Gitu?

TWJ: Persis.

HY: (mesem) Pak Jadi, saya mau tanya, kalau njenengan ke gereja itu yang didoakan apa, to?

TWJ: Ya minta diparingi rejeki, gamblangnya ya duit.

HY: Ha ya salah….

TWJ: Salahnya… (badan condong ke depan)

HY: Lha Gusti Allah itu bukan kasir, je.

TWJ: Berdoa mohon anak lulus kuliahnya, juga salah?

HY: Lha memangnya Tuhan Allah itu yang punya universitas?

TWJ: Lha kalau anak sakit-sakitan bagaimana? Apa ya nggak boleh berdoa?

HY: Siapa yang melarang berdoa. Saya nggak melarang, lho. Tapi menurut saya, kalau sakit-sakitan ya dibawa ke dokter to, dicarikan obatnya….

TWJ: Sampeyan ini aneh, Pak. Malah bikin saya tambah mumet.

HY: Wah….

(Muncul Pakde Dar, Pak Osler dan pak Joko)

Ke-3nya: Kulanuwun, Permisi

HY: Wah,….rombongan…mari-mari……silakan

(salaman, semuanya duduk)

POS: Lagi asik nih, Pak. Kita ngeganggu enggak ini..

HY: O, enggak. Saya sama Pak jadi cuma lagi mumet-mumetan kok ini. Ya to Pak?

TWJ: Hiya…baru ngobrol-ngobrol biasa saja kok

HY: Sebentar, saya memang kangsen mau ketemu sama Pak Dar. Mau ngobrol soal udang. Lha ini Bang Os sama Pak Joko mau ikut ngobrol soal udang juga, apa?

POS: Bukan, Pak. Kebetulan tadi kita bertiga ketemu di rumah Pakde Dar. Sambil ngopi kita ngobrol tentang gereja, terus mentok. Makanya kita kesini minta penerangan….

HY: Penerangan? Lha saya bukan PLN itu?

TWJ: Lho, lak guyon lagi to…

HY: Lagipula, gereja kan nggak cuma sekedar diomongin, to. Tapi juga harus didatangi….

POS: Itulah, Pak Mardi! Topik obrolan yang mentok itu ya masalah apa sih pentingnya ke gereja?

HY: O…begitu.

PDD: Aku sama Bang Os ini menganggap ke gereja, beribadat, itu penting. Sementara Si Joko ini menganggap tidak penting. Aku mau njelaskan, nggak bisa. Nah, sekarang tolong jelaskan, gitu….

HY: (sambil prengas-prenges) Lha kok nggak penting, Pak Joko?

PJK: Lha wong tanpa ke gereja saja hidup saya sudah enak, duit banyak, banyak keinginan bisa keturutan. Buat apa ke gereja?

HY: Weee, lha ini kebalikan sama Pak Jadi. Kalo Pak Jadi, rajin ke gereja tapi hidupnya marbun…marai bunek.

POS: Lha terus gimana ini…

PJK: haha…gimana hayo…

TWJ: Tambah mumeti ini

PDD: Sudah…sekarang kita dengarkan

(HY menyenderkan badan ke kursi, melihat langit-langit)

HY: Sebenarnya, dalam ekaristi, ibadat di gereja itu, yang terjadi apa to?

POS: kita mendengarkan kitab suci sabda Tuhan, mengumpulkan persembahan kolekte, komuni, terus pulang.

HY: Tidak salah… . tapi yang saya tanyakan adalah peristiwa apa to itu sebenarnya?

PDD: Kita bertemu Gusti Allah.

HY: Betul. Yang terjadi adalah Tuhan Allah mengundang kita untuk bersahabat dengan Dia. Tuhan memberikan jaminan berkat dan penyertaanNya dalam hidup kita.

PJK: Kapan itu?

HY: Lha tubuh dan darah Kristus dalam wujud roti dan anggur itu, yang kita sambut sebagai komuni suci itu…. Kan dikatakan inilah tubuhku inilah darahku… lalu kita santap. Masuk tubuh kita. Tinggal dalam tubuh kita. Artinya lalu Tuhan sungguh-sungguh bersama kita.

TWJ: Lalu persembahan kita, termasuk uang kolekte itu, apa to maksudnya, Pak?

HY: Njenengan tahu artinya kurban

TWJ: Hmmm, mau, rela, iklas memberi, menyerahkan…apa lagi ya…

HY: Dan seterusnya…ya to? Nah, Tuhan kita mau, rela, iklas memberikan, menyerahkan diriNya sendiri untuk hidup kita. Lalu kita menyerahkan, mempersembahkan uang kita, itu pun bukan seluruhnya to, hanya sebagian keciiill sekali to. Bukan wujud atau jumlah uang itu yang terpenting. Jauh lebih penting adalah kita membawa, mempersembahkan hidup kita, dalam segala situasi, untung dan malang, suka dan duka. Persembahan kita disatukan dengan kurban Tuhan.

PDD: Jadi kita lalu betul-betul bersatu, disertai Tuhan, begitu?

HY: Tul.

TWJ: Berarti kita ini mengundang Tuhan untuk terlibat dalam hidup kita sehari-hari. Begitu?

HY: Tul.

POS: Dalam susah dalam senang? Di Kantor, di rumah, di sawah, di tempat usaha? Waktu sakit atau waktu kita bokek?

HY: Tul, tul, tul… Tapi ya itu tadi Pak Jadi, masalah uang seret, sakit encok, rematik, keseleo, nilai ulangan jelek, nggak lulus-lulus itu perkara dunia. Jangan memaksa Tuhan jadi dokter, dukun urut, kasir, atau dosen. Tetap saja kita yang harus menangani hal-hal itu.

TWJ: Lalu dimana letak penyertaan Tuhan?

HY: Yang jelas bukan di sini atau di sini (ambil pegang hidung, tengkuk atau yang lain). Penyertaan Tuhan berarti kita tetap punya pengharapan dalam hidup. Penyertaan Tuhan berarti kehendak Tuhanlah yang menjadi inspirasi, pedoman, kekuatan, landasan, dasar dan tujuan dari apa yang kita rencanakan, kita lakukan, kita putuskan dalam hal apa saja. Termasuk mengatasi masalah-masalah sepetnya hidup.

PJK: Sebentar…. Saya jadi tertarik ini…

HY: Tertarik sama saya apa?

PJK: Edan apa! Ini, lho, masalahnya itu tanpa ke gereja pun, tanpa ikut ibadat pun, saya ini sudah merasa kecukupan, senang, bisa menikmati hidup….

POS: Ya, itu gimana, Pak?

HY: Pak Joko, saya senang njenengan mengalami rahmat itu. Ikut senang saya. Saya Cuma mau tanya beberapa hal: apa pak Joko sudah menggaji karyawannya dengan adil dan layak? Apa perhatian untuk anak-istri sudah cukup, bukan dalam hal materi lho. Misalnya menemani anak belajar? Mendengarkan pendapat pasangan?

PJK: Ya, kalau itu sih..

HY: Apa , nuwun sewu ini, bisnis Pak Joko bebas KKN, mendapatkan tender tanpa kolusi, tidak main manipulasi angka-angka dalam nota? Menggunakan pelicin untuk memperlancar bisnis?

PJK: Kalau masalah itu….

HY: Biasanya ini, nuwun sewu ya, kalau sudah sukses bisnisnya sok mlirak-mlirik, main telpon dan sms sama perempuan cantik. Apa ini juga terjadi?

PJK: kalau itu….

HY: Itu semua Cuma sekedar pertanyaan lho, Pak. Termasuk apa Pak Joko juga menyempatkan kerja atau layat tetangga yang meninggal? Sekali lagi ini sekedar pertanyaan yang bisa dijawab sendiri, lho.

PJK: Ya, saya tahu itu…tapi apa hubungannya itu semua dengan ikur misa di gereja, apa hubungannya dengan beribadat?

PDD: Ya itu tadi, Jok. Kita mempersilakan Gustii Allah terlibat dalam hidup kita, jadi kita disertai. Kalau disertai, kita bisa berharap bahwa langkah kita bisa selaras dengan langkahNya. Karena yang kita jadikan dasar dan tujuan, inspirasi atau ilham untuk bertindak adalah Gusti Allah sendiri.

POS: Misalnya, kalau Tuhan itu menjadi inspirasi kita, maka kita nggak akan sabet perawan sana sabet perawan sini karena kita sudah punya istri. Atau nggaji karyawan ya yang wajar, tidak memeras.

TWJ: Atau nggak bakal mengambil langkah korupsi kalau mau menambah penghasilan.

HY: We…lha pada tambah pinter ini….

(semua tertawa)

PJK: satu pertanyaan lagi, pak Mardi….

HY: Wah belum puas, puas, puas ini. Apa, Pak Joko?

PJK: Beribadat, ke gereja seminggu sekali itu apa nggak keseringan to…

HY: Lha berani nawar berapa…?

(tertawa lagi)

POS: Kaya wong dagang, bae…

HY: Jujur saja, kita manusia ini kan lemah, to. Gampang tergoda, gampang lupa, kilaf. Sementara hidup ini terus bergulir dengan bermacam-macam masalah di depan mata kita to. Maka baik sekali kalau kita selalu menerima undangan bersahabat dari Tuhan Allah. Menyatukan suka-duka hidup kita dengan kurban Allah. Mengundang Tuhan Allah menyertai hidup kita. Terus, dan terus begitu.

PDD: Ibarat kata, urip kuwi kudu mampir ngombe. Hidup itu harus disempatkan berhenti untuk minum. Minum dari sumber kehidupan. Supaya hidup rohani kita tidak kering, mati kehausan jadi balane setan. Kan Gitu.

HY: Yak, tul. Nah, kalau sudah jelas begitu, lalu kapan kita mau mulai hidup yang harus mampir ngombe itu?

(Semua manggut-manggut tercenung)

POS: Eh, masih satu pertanyaan lagi nih…

PJK: Apa lagi to Bang?

POS: Ini lho, kita sudah lama mampir di sini tapi kok belum ngombe juga ya…

Semua: hahahahaha…..

END

Pendalaman Iman APP: Tawaran Metode Baru

Mengunjungi dengan Hati

JANDA-JANDA KATOLIK TELADANI KETEKUNAN SANTA MONIKA DALAM BERDOA

Janda-janda Katolik yang berkumpul pada sebuah perayaan Paskah dan perayaan menyambut peringatan 25 tahun paguyuban mereka menganggap Santa Monika sebagai pelindung dan teladan mereka dalam hal berdoa.

“Kami para janda berusaha mengikuti jejak Santa Monika untuk selalu berdoa. Kami mendoakan keluarga sendiri, anak kami, dan suami kami yang sudah meninggal. Kami juga mendoakan Gereja, paus, para uskup dan imam, serta negara dan bangsa kami,” kata Theresia Sri Supartini.

Koordinator Perhimpunan Warakawuri Katolik Santa Monika (PWK Santa Monika) Cabang Keuskupan Purwokerto itu berbicara kepada UCA News pada perayaan 15 April yang diselenggarakan di sebuah gedung milik pemerintah setempat.

Sekitar 250 janda, dari sembilan paroki anggota dan beberapa paroki bukan anggota, menghadiri perayaan itu bersama tujuh imam dan 10 biarawati. Keuskupan Purwokerto memiliki 21 paroki.

PWK Santa Monika, yang didirikan di Jakarta pada 12 Juni 1982, memiliki lebih dari 10.000 anggota di 20 dari 36 keuskupan di tanah air, demikian menurut Angela Maria Rena Karim, ketua sekaligus pendiri PWK Santa Monika. Peringatan 25 tahun PWK Santa Monika akan secara resmi diadakan di Jakarta pada 17 Juni.

Supartini juga mendorong anak-anaknya untuk berdoa.

“Ketika anak-anak masih kecil, saya mengajak mereka berdoa rosario secara bersama setiap malam. Anak-anak berbagi tugas sendiri. Ada yang mendoakan ayah mereka yang sudah meninggal, ada yang mendoakan saya, ada yang mendoakan keluarga, dan ada juga yang menyampaikan doa malam. Anak saya yang masih TK waktu itu berdoa singkat: Tuhan, berkati keluarga kami. Amin,” kenangnya.

Pensiunan guru berusia 67 tahun itu, yang suaminya meninggal tahun 1973, mengakui bahwa sebagai orangtua tunggal ia menghadapi banyak kesulitan dalam membesarkan keenam anaknya seorang diri, “tapi saya berserah dan memohon bimbingan Tuhan,” dan sekarang mereka semua telah menikah dan memberi dia tujuh cucu.

Menjanda itu kehendak Tuhan, katanya. “Tuhan memberi kepercayaan kepada saya untuk mendidik dan membesarkan anak-anak,” lanjutnya.

Seorang janda lain, Bernadet Endang Ristawati, 59, mengaku bahwa ia juga meneladani ketekunan Santa Monika dalam berdoa karena “doa memiliki kekuatan.”

Setahun setelah kematian suaminya pada Januari 2003, kenangnya, ia menjalani operasi kanker payudara di Yogyakarta. “Saya berdoa agar bisa menjalani pengobatan hingga tuntas. Tapi kenyataannya, setelah operasi saya membutuhkan banyak uang untuk menjalani kemoterapi dan penyinaran di Yogyakarta,” katanya kepada UCA News.

Berkat novena tiga Salam Maria, lanjut guru di sebuah sekolah menengah pertama itu, “Tuhan memberi jalan.” Ketua PWK Santa Monika Paroki Katedral Kristus Raja di Purwokerto itu menambahkan, “Saya mendapat hadiah sepeda motor dari bank. Saya menjual sepeda motor itu untuk menambah biaya pengobatan.”

Maria Magdalena Sumartini, 61, mengatakan kepada UCA News bahwa setelah kematian suaminya ia merasa tidak berguna dan tinggal seorang diri, sementara ketiga anaknya tinggal di Yogyakarta dan Jakarta.

“Sesudah bergabung dengan PWK Santa Monika, semangat hidup saya bangkit kembali,” kata Sumartini. Lewat doa dan paguyuban, katanya, ia menyadari bahwa Allah mencintai dia dan banyak orang membutuhkan dia, termasuk anak-anak dan cucu-cucunya.

Perayaan dimulai dengan ibadah yang dipimpin oleh Pastor Ambrosius Adiwardaya, pendamping PWK Santa Monika Cabang Keuskupan Purwokerto. Seusai ibadah, paroki-paroki anggota menampilkan pantomim, tarian, dan drama. “Kami mengadakan acara seperti ini untuk menunjukkan bahwa Gereja tidak mau melupakan mereka,” katanya kepada UCA News.

Sebuah kelompok tari beranggotakan 30 orang dan sejumlah musisi menampilkan sendratari yang diciptakan oleh Franciska Untariningsih.

Menurut Untariningsih, tari itu mengisahkan ketekunan Santa Monika dalam hal berdoa, yang seharusnya diteladani oleh para ibu. “Ia seorang pendoa. Ia berdoa tanpa mengenal waktu. Tuhan akhirnya mengabulkan permohonannya,” kata koreografer itu.

Dalam sebuah buku kenangan yang diterbitkan untuk perayaan itu, Uskup Julianus Sunarka SJ menulis: “Kerohanian PWK Santa Monika bersumber dari kehidupan Yesus Kristus yang lalu diterjemahkan dalam hidup sehari-hari Santa Monika. Masalahnya, bagaimana kerohanian dasar itu merasuki hidup sehari-hari para warakawuri.”

Santa Monika, yang hidup pada abad keempat, adalah santa pelindung para ibu, istri, dan janda. Diyakini bahwa ibu St. Agustinus dari Hippo itu berdoa terus-menerus agar suaminya masuk Katolik, yang akhirnya menjadi Katolik saat kematiannya. Ia juga mendorong anaknya untuk masuk Katolik setelah melewati suatu kehidupan yang liar.

Bantingan

Sing Cino Sing Jowo manuk-e dowo!

Semboyan klasik De Britto yang mengagungkan kesetaraan dan persaudaraan dalam perbedaan itu kembali terdengar sangat keras, berkali-kali, dilantangkan dengan serempak sambil gedruk-gedruk kaki, mengawali acara reuni SMA saya itu kira-kira seminggu yang lalu. Reuni itu sendiri berjudul “Manuk Pulang Kandang”.

Tulisan saya ini tidak mau membahas tentang permanukan, meskipun dua kata manuk sempat keluar pada kalimat saya di atas. Saya hanya ingin sekedar sharing, mengingat beberapa peristiwa terakhir yang saya alami serasa tersegarkan kembali, diberi roh lagi dalam acara yang edan-edanan itu.

Di meja pendaftaran saya mendaftarkan diri. Nama-alamat-tahun kelulusan. Di meja berikutnya saya mendapati sebuah kotak (jan wujud-e uelek tenan!). Di sisi depan kotak itu ada tulisan: Mbanting, Dab! (Dab=Mas). Ada kalimat lagi di bawahnya: Sejuta ora akeh, sewu ora sithik. Oh! Saya merasa terlempar ke tahun-tahun SMA saya yang penuh keemasan tapi nggak lucu (lanang kabeh!). bambang Wedhus, kawan saya pernah nyanyi begini (menirukan lagunya Paramitha Rusady): Nostalgia SMA kita, tidak lucu cowok semua….

Satu hal yang begitu membekas dari masa SMA saya adalah budaya bantingan. Ini bukan gulat bebas. Bantingan adalah cara kami bergotong-royong, melakukan subsidi, donasi, pemberian, kemurahan hati, berupa uang untuk membiayai suatu hal atau kegiatan; bisa acara piknik, pertandingan olah raga, layatan, mbesuk orang sakit, bikin jaket kelas, sekedar beli udut atau nyengsu bersama. Yang merasa punya duit ya bakal mbanting banyak. Yang lagi kere ya mbanting seadanya. Yang betul-betul kere-sonthe ndak boleh mbanting. Kalau mbanting malah dikeplak-i. “Kowe ra sah! Nggo ragat mangan wae! Nek melu mbanting malah mengko lara beri-beri!”

Begitulah kami menikmati budaya subsidiaritas dan sepenaggungan sejati. Roh kelompok basis. Paguyuban katresnan. Tidak ada rasa terpaksa. Semua iklas. Semua berdasarkan takaran masing-masing yang kurang lebih sama: sakjane aku bisa mbanting pira? Yang mbanting banyak biasanya kawan-kawan yang berdarah tionghoa. Kenapa? Umumnya mereka (istilah kami saat itu) cino sugih duwe toko. Yang Jowo juga ada yang bisa mbanting gedhe, meskipun nggak banyak karena kebanyakan Jowo ireng mlarat. Kalo ada Cino sugih duwe toko mbantingnya cuma sak nil, biasanya ada yang tanya: Bangkrut po kowe?. Atau pertanyaan seperti ini: Lak isih duwe toko to? Yang ditanya ya bisa ngeles: Isih luwih akeh timbang bantingan duitmu sing apeg! Atau kalau memang usaha orang tuanya lagi kocar-kacir malah bilang begini: Mbok pisan-pisan sing jowo nyumbang cino…..

Pernah kawan saya yang mbatak tidak dikirimi uang dari kampong selama 2 bulan. Selama 2 bulan itulah dia hidup dari uang bantingan, termasuk SPP-nya. Yang mbanting 20 kawan saya yang cino. Begitu bersyukurnya dia, begitu gembiranya kawan saya, sampai-sampai dia memproklamirkan nama panggilan baru: A Lian Bacin (batak cino). Nama aslinya Parulian Purba.

Yang dibanting bukan hanya uang. Barang juga bisa. Pernah kami bikin acara kumpul-kumpil tanpa panitia. Suguhan bawa dari rumah masing-masing. Ada yang bawa babi kecap, saksang B1 (yang ini mbatak punya), gula-kopi, es batu (punya pabrik es), kacang, tela, sate ayam (anaknya tukang sate), sampai rokok beberapa slop (ambil dari toko papah-nya). Turah-turah.

Pernah juga kami melawat ke Solo, jadi supporter tim basket sekolah. Bantingan uang buat sangu sudah. Tapi masalah kendaraan pengangkut ke Solo belum terpecahkan. Kawan saya anak juragan babi usul: nganggo trek-e papahku wae. Kawan saya yang lain, papahnya punya toko besi, meyodorkan satu trek-nya. Jadilah kami semua ke Solo naik trek penuh aroma babi dan bleduk semen hasil bantingan.

Kalau Anda tanya apakah ada yang terpaksa mbanting, saya tidak tahu pasti. Seingat saya sih wajah kawan-kawan saya selalu sumringah, excited, antusias, gembira. Bisa memberikan sesuatu untuk kelompoknya barangkali sebuah kegairahan besar yang tak terukur oleh materi.

Anehnya, budaya bantingan kami juga tidak melahirkan juragan-juragan baru. Yang mbanting banyak juga tidak lalu jadi bos, duduk enak-enak, berdiam diri . Yang mbanting sedikit atau malah nggak mbanting sama sekali juga tidak lalu jatuh asor jadi kuli. Semua tetap sepandan, se-level, satu kasta, sederajat-serangkulan.

Kalau ada layatan, yang mbanting banyak ya tetap mau nyunggi peti mati. Tidak duduk-duduk manis ngeyop. Yang nggak bisa mbanting ya tidak merasa wajib nyunggi peti sebagai sili, denda, penitensi karena tidak mbanting. Peti mati tetap diangkat bareng-bareng oleh yang mbanting banyak, sedikit ataupun yang tidak. Kan celaka kalau misalnya kami sekelas 40 orang-an, yang mbanting banyak ada 36 orang, yang mbanting sedikit atau tidak mbanting sama sekali cuma 4, lalu yang 4 ini ‘diganjar’ nyunggi peti karena bantingannya kalah gedhe. Wah, bisa-bisa mbanting peti nanti! Begitulah saya melihat peti mati pun bisa menjadi simbol kehidupan, tanda paguyuban yang hidup. Waktu itu.

Sungguh saya merindukan waktu-waktu itu.

Di Paroki Kebumen ini, kerinduan itu sesekali menemukan tombo-nya. Beberapa kali saya melihat semangat bantingan itu hidup di beberapa kegiatan, di beberapa kelompok basis. Kadangkala saya sampai jatuh haru. Bukan karena ke-De Britto-an saya. Tapi karena melihat umat Kebumen pun juga belajar menghidupi semangat paguyuban yang baik ini, semangat saling member, murah hati, subsidiaritas, rasa memiliki dan kesadaran bahwa ‘saya adalah milik’ Paroki ini.

Pengalaman Natal 2007 yang baru saja berlalu pun demikian. Kebetulan Bu Candra, Cik Lan Ing dan saya ditugasi untuk mengusahakan dana yang bisa dipakai untuk meringankan beban pembiayaan perayaan Natal Paroki yang mencapai 10-11 jutaan. Kami mengupayakan lewat ‘iklan’ ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru. Lumayan. Dana yang terkumpul mencapai 3 jutaan. Padahal tariff iklan sudah dinaikkan. Padahal disain iklan-nya juga begitu-begitu saja. Padahal iklan-iklan yang sangat komersial tidak kami terima.

Saya percaya bahwa tujuan utama para pemasang iklan itu adalah menyumbang. Kalau sekedar ucapan selamat toh bisa lewat SMS atau salaman sepulang Misa. Saya percaya itu semua adalah wujud budaya bantingan yang pelan-pelan kita hidupi. Saya percaya bahwa kemurahan hati semakin tumbuh di Paroki ini. Dan saya gembira untuk itu.

Hanya saja, sayangnya, budaya bantingan kita masih menyisakan pemisahan kasta. Masih ada juragan dan masih ada kuli. Yang mbanting banyak masih merasa berhak duduk manis jadi juragan. Otong-otong, angkut-angkut, kerja kasar masih menjadi porsi bagi yang mbantingnya sedikit atau tidak sama sekali. Tanya saja Pakde Dar. Ya kan, Pakde? Ah, semoga apa yang saya lihat salah…..

Di awal tahun yang baru ini saya mencoba berharap. Semoga budaya bantingan sungguh bisa dihidupi oleh semua umat Paroki ini. Dalam banyak hal. Perayaan-perayaan hari besar, layatan, kegiatan-kegiatan paroki, kolekte, darma bakti, gerakan orang tua asuh, dan banyak lagi. Semoga demikian.

Susilo Arie

(Jowo ireng duwe toko)

Misa Keliling Dekenat Selatan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.